Senin, 17 September 2018 - 22:32:16 WIB
GADGET SEBAGAI SUMBER BACAAN ALTERNATIF GENERASI MILLENIAL
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Karya Tulis - Dibaca: 1832 kali

Penulis: Fenorita Linggalo (Mah. Sem. VI STAK – Luwuk Banggai)

 

 

 

PENDAHULUAN.

 

Orang yang lahir antara tahun 1980 sampai dengan tahun 2000 menyebut dirinya sebagai generasi millennial. Generasi ini memiliki karakteristik yang khas, seperti: lahir pada zaman TV tidak hitam putih lagi dan sudah menggunakan remote control. Berlanjut kepada penggunaan alat komunikasi tanpa kabel (seperti pager dan telefon genggam). Bahkan dengan laju perkembangan alat dan sistem komunikasi, telefon genggam dengan cepat ber-metamorfosa menjadi telefon pintar (smartphone) dan tablet.[1]

 

Sejak saat itu, revolusi komunikasi dimulai. Orang dapat berkomunikasi dengan orang lain yang berada di lain tempat dengan fasilitas audio visual. Orang dapat melakukan berbagai macam kegiatan dengan satu alat yang disebut gadget,[2] yang terkoneksi dengan jaringan internet.

 

Akibatnya gadget telah berhasil “merambah” ke posisi primer dalam urutan kebutuhan generasi millennial. Gadget bukan lagi sekedar menjadi gaya hidup, melainkan sudah menjadi kebutuhan hidup.

 

Kondisi ini penting disikapi dengan cermat. Generasi millennial ini harus “pandai-pandai” memergunakan teknologi yang memberi berbagai kemudahan itu jika tidak ingin melewatkan waktu kekinian mereka dengan percuma. Gadget harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk memersiapkan masa depan generasi ini. Tentu saja dengan memaksimalkan salah satu fungsinya, yaitu menjadi media baca tentang berbagai macam topik.

 

Berdasar hal tersebut di atas, penulis mencoba memberi sumbang pikiran, berharap bahwa teknologi gadget dapat memberi dorongan bagi generasi millennial memiliki budaya dan minat baca yang tinggi.

 

 

 

MENINGGALKAN GADGET ADALAH SEBUAH “KEMUSTAHILAN”

 

Generasi millennial sudah terlanjur berada dalam “kubangan lumpur” gadget. Memisahkan mereka dengan gadget sama sulitnya dengan memisahkan antara laut dan pantai.

 

Sebuah tayangan di youtube memerlihatkan bagaimana seorang anak yang sedang bermain game melawan orang tuanya karena dia disuruh menghentikan permainannya dan harus segera menyelesaikan Pekerjaan Rumah yang diberi oleh guru di Sekolah. Dengan kesal anak tersebut mengambil tumpukan buku PR-nya lalu membantingnya di depan orang tua sambil berteriak “PR ini yang membuat orang jadi bodoh”.[3]

 

Barangkali tidak ada generasi millennial (khususnya di Kota Luwuk) yang berani melakukan hal serupa di hadapan orang tuanya. Tetapi “semangat perlawanan” mereka terhadap orang yang mencoba menhentikan mereka bermain gadget bisa dibilang sama. Mereka bisa memerlihatkan penolakan terhadap aturan membaca buku pelajaran atau mengerjakan PR seperti pada tayangan (youtube) tersebut di atas dalam bentuk atau cara yang berbeda.

 

Sebagaian besar mereka melakukan “perlawanan” secara sembunyi-sembunyi. Misalnya, buku terbuka tepat di hadapan mereka namun di bawahnya terdapat gadget. Hal ini mereka lakukan untuk mengelabuhi orang tua atau guru, seolah mereka sementara baca buku, tetapi dapat dipastikan anak tersebut lebih berkonsentrasi kepada gadget yang disembunyikannya itu. Jikapun ketahuan, nasihat dan bentakan orang tua kadang hanya ditanggapi secara dingin.

 

Kondisi ini membuat banyak orang tua dan guru menjadi kehilangan akal. Sebut saja guru X di sekolah Y hilang kendali lalu membanting smartphone milik peserta didik karena kedapatan asyik ber-medsos sementara sang guru sedang menerangkan pelajaran. Tetapi apa yang terjadi setelah peristiwa tersebut? Jerah-kah para peserta didik di sekolah itu malakukan hal yang sama? Tidak. Guru tersebut bercerita kepada saya kalau tindakannya sama sekali tidak berdampak apa-apa bagi peserta didik di sekolah tersebut. Akhirnya sang guru menjadi apatis, katanya. “daripada saya kase tangan dan masuk penjara, lebih baik saya mengajar saja, abis itu terima gaji.”

 

Inilah kondisi nyata zaman ini dan kita sedang berada di dalamnya. Inilah dunia kita. Tidak mungkin dapat menariknya mundur ke belakang.Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memikirkan solusi agar nilai-nilai yang sangat baik (seperti budaya membaca) tidak tergerus oleh fasilitas yang seharusnya dapat memberi sumbangsih positif bagi para penggunanya.

 

 

 

GENERASI MILENIAL YANG KURANG GEMAR MEMBACA?

 

Dalam beberapa kali kunjungan  untuk mengakses fasilitas wifi yang disiapkan oleh pihak PT Telkom Luwuk di halaman kantor mereka, penulis mencoba berkeliling untuk sekilas “mengintip” content yang diakses oleh para pengguna, ternyata lebih dari 80% pengguna menggunakan fasilistas wifi dengan bermain game online. Mereka bisa menghabiskan waktu berjan-jam untuk kegiatan itu. Apakah pengguna lainnya memakai jasa itu dengan membaca artikel? Tidak. Beberapa di antaranya asyik nonton youtube dan atau sekedar mendengarkan lagu. Selebihnya, hanya satu dua orang yang membaca artikel, itu pun rata-rata dari mereka sudah tidak muda lagi.

 

Demikian pula ketika penulis sekilas mengunjungi Perpustakaan Daerah Kabupaten Banggai. Tampak situasi agak lengang. Hanya beberapa pengunjung saja yang terlihat tengah asyik menikmati bahan bacaan mereka.

 

Mengapa terjadi demikian? Tidak sadarkah generasi ini bahwa ada jurang kegagalan cukup besar menganga di hadapan orang yang tidak memiliki cukup pengetahuan dan wawasan? Tidak tahukah generasi millennial ini bahwa pengetahuan dan wawasan secara umum hanya boleh didapat dari aktivitas membaca?

 

Secara umum generasi millennial juga tahu hal itu. Ketika penulis mendekati beberapa anak berseragam SMA di suatu tempat, penulis coba memperbincangkan manfaat membaca. Secara implisit penulis menerangkan rangkuman Akkage Dawwas dalam blog-nya menyangkut pendapat para ahli tentang manfaat membaca dari segi kesehatan, intelektual dan pengembangan diri.[4] Tampak bahwa mereka sangat paham semuanya (manfaat membaca). Mereka tahu apa akibatnya jika seorang tidak suka membaca. Kata mereka, “hampir semua guru selalu mengingatkan tentang hal itu.”

 

Ketika pertanyaan berlanjut, “apakah kalian suka membaca?” Mereka saling berpandangan, sambil tersenyum salah seorang di antaranya berkata, “tergantung”, sembari memainkan gadget di tangannya. Ketika penulis sedikit mendesak apa maksud ungkapan itu, yang lainnya menjawab, “kalau ada tugas dari sekolah yang bapaksa torang harus membaca, ya… terpaksa torang membaca”.

 

 

 

BUDAYA MEMBACA TERGERUS KARENA TEKNOLOGI GADGET?

 

Pertanyaan yang perlu dicermati adalah, apakah generasi ini tidak gemar membaca karena teknologi gadget yang berkembang begitu pesat dan dapat meninabobokkan generasi ini dengan berbagai fitur menarik di dalamnya? Ataukah karena memang “dari sononya” masyarakat kita (Indonesia) umumnya kurang suka membaca?

 

Menurut survey yang dilakukan oleh  Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 dan dirilis pada tanggal 29 Agustus 2016 oleh media online Kompas.com, memerlihatlan Indonesa minat baca di Negara ini menempati ranking 60 dari 61 negara yang disurvey.[5]

 

Hasil survey tersebut sejalan dengan hasil survey yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun yang sama, dan hal ini diakui oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Hasil survey tersebut menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 %. Artinya hanya ada satu orang dari seribu penduduk Indonesia yang suka membaca.[6]

 

Hasil survey tersebut di atas tidak serta merta dapat langsung dihubungkan dengan perkembangan teknologi gadget sebagai faktor penyebab kurangnya minat baca di Indonesia. Survey yang dilakukan oleh beberbagai lembagai survey dunia sejak tahun 2002 hingga 2006, di mana teknologi gadged, kurang lebih tiga tahun sebelum Android (system operasi smartphone) digunakan untuk phonecel. Hasil berbagai survey itu menempatkan Indonesia selalu berada pada peringkat terendah minat baca, dibandingkan dengan berbagai negara di dunia, Asia bahkan Asia Tenggara sekalipun.[7]

 

Berdasarkan perbadingan minat baca dua zaman berbeda (zaman sebelum dan sesudah teknologi gadget berkembang) sebagaimana terurai di atas, saya menyimpulkan bahwa memang “membaca” adalah kegiatan yang kurang diminati oleh masyarakat kita sejak dahulu. Ratnawai, seorang mahaiswa Sastra Indonesia di Universitas Pamulang Tangerang Selatan, menyebutkan bahwa nenek moyang kita tidak pernah mewariskan budaya membaca. Mereka lebih suka meneruskan pengetahuan, budaya dan kearifan lokal melalui cerita.[8]  

 

Lalu apa solusi yang dapat ditawarkan bagi sebagian besar generasi millennial yang kurang gemar membaca ini agar dapat menjadikan membaca sebagai budaya mereka?

 

 

 

GADGET SEBAGAI SEBAGAI SUMBER BACA GENERASI MILLENIAL

 

Menurut saya, “relakanlah” gadget tetap ada di tangan generasi millennial ini. Sebab, merebut gadget dari tangan mereka sama dengan upaya mengembalikan mereka ke era tiga puluh lima-an tahun silam, dan itu mustahil dapat dilakukan.

 

Terpenting untuk dilakukan adalah memikirkan bagaimana cara agar gadget yang memiliki beraneka ragam kegunaan itu dijadikan sebagai media atau fasilitas baca. Bahkan kalau bisa, membaca menjadi prioritas utama ketika mereka menggunakan gadget. Persoalan urgen yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar generasi millennial memiliki budaya membaca, tentunya dengan fasilitas yang melekat di tangan mereka, yaitu gadget.

 

Pertama yang harus dilakukan adalah mengadakan kampanye yang berisi informasi  bahwa “membaca adalah prasyarat mutlak menggapai masa depan yang lebih baik.” Kegiatan ini harus dilakukan secara berulang di tempat-tempat yang mudah diakses oleh semua orang. Cara ini dipakai oleh dunia usaha untuk memperkenalkan produk mereka. Mengapa ini penting dilakukan? Intensitas menyaksikan tayangan yang tinggi dan berulang, - menurut Trimarsanto, seorang pegiat periklanan televisi - “menjadi proses peyakinan persuasive yang matang”.[9] “Dorongan untuk giat membaca” yang terlalu sering diperlihatkan dan diperdengarkan akan menginteralisasi serta mempengaruhi pola pikir dan pengambilan keputusan seseorang untuk mau membaca.

 

 Penggagas gerakan “Indonesia Mengajar”, Anis Rasyid Baswedan berpendapat bahwa budaya membaca harus mulai dari mengajarkan anak membaca, kemudian membiasakan anak membaca hingga menjadi karakter, setelah itu barulah menjadi budaya.[10]

 

Dari urut-urutan yang dikemukakan, dua urutan pertama membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, yaitu “mengajar” dan “membiasakan”, sementara sisanya hanya merupakan konsekuensi logis dari kedua hal tersebut. Namun berita baiknya, bahwa menurut para ahli, hanya dibutuhkan 21 (dua puluh satu hari) untuk membangun suatu kebiasaan yang baik. Artinya, jika seorang sudah bisa membaca, maka hanya diperlukan tiga minggu untuk membangun kebiasaan yang menjadi dasar membangun budaya membaca.[11]

 

Lebih jauh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menyebutkan bahwa membaca tidak hanya dapat dilakukan dengan membuat program mebaca melainkan melakukan sebuah “gerakan”. Alasannya, bahwa gerakan lebih cepat menular daripada program.[12]

 

Hal kedua yang perlu dilakukan adalah memberikan informasi penting tentang kegunaan gadget. Generasi millennial harus selalu diingatkan, bahkan disadarkan bahwa kemudahan-kemudahan yang disiapkan gadget dapat menolong menggapai hidup yang lebih baik.

 

Gadget dapat menjadi perpustakaan terlengkap dan tidak butuh waktu lama menemukan buku apapun yang kita inginkan. Hanya dengan beberapa kali sentuhan saja, buku atau informasi apa saja yang kita inginkan bisa didapatkan dengan cepat.

 

Jika buku (teks-book) kurang praktis dibawa ke mana-mana, maka hal itu dapat diselesaikan dengan gadget, tentu saja sejauh di tempat yang dituju ada jaringan internet. Jika harga buku lumayan mahal, maka gadget menawarkan solusi untuk hal itu.

 

 

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

Kita tidak mungkin dapat membalikkan zaman ini ke masa lalu. Paling penting kita lakukan adalah bagaimana mengadaptasi kemajuan, khususnya dalam bidang teknologi gadget, menjadi pemberi nilai manfaat yang tinggi, khususnya bagai generasi millennial yang sedang berjuang menggapai masa depan mereka.

 

Sebagai bagian dari generasi millennial ini, penulis mencoba mengusulkan beberapa hal khususnya kepada para panitia lomba menulis karya ilmiah, dalam hal ini Dinas Perpustakaan dan Aset Daerah Kabupaten Banggai, sebagai berikut:

 

1.      Di samping buku-buku, Perpustakaan Daerah juga harus memersiapkan fasilitas Komputer dengan akses wifi gratis namun terkontrol. Mengapa demikian? Agar operator Perpustakaan dapat mengetahui content apa yang sedang diakses oleh si pengguna. Operator dapat menegur, bahkan menghentikan akses pengguna jika ada hal-hal dinilai tidak sesuai dengan maksud penyediaan fasilitas tersebut.

 

2.      Menyiapkan ruang baca yang membuat generasi millennial  ini betah berlama-lama di tempat itu.

 

3.      Mendesain sebuah website dengan front line content yang sungguh menarik. Website yang dimaksud memuat berbagai macam e-book gratis, baik Buku Pelajaran Sekolah mamupun Buku Umum lainnya yang dapat diakses oleh setiap orang yang telah menjadi anggota perpustakaan melalui registrasi.

 

4.       Mengampanyekan sebuah semboyan yang membuat generasi milenial ini punya rasa malu jika tidak suka membaca. Semboyan yang sama demgan PINASA yang telah berhasil membuat masyarakat kota ini malu jika membuang sampah sembarangan.




423 Komentar :

jasa penerjemah tersumpah ijazah
18 September 2018 - 09:31:26 WIB

terimakasih atas informasinya
baju kaos anak
18 September 2018 - 13:39:41 WIB

sering - sering update artikelnya
jasa penerjemah dokumen tersumpah
19 September 2018 - 09:24:59 WIB

website ini memberikan segala informasi yang bagus dan bermanfaat
baju karakter anak
19 September 2018 - 14:42:20 WIB

website ini memberikan segala informasi yang bagus dan bermanfaat
penerjemah arab
20 September 2018 - 09:15:31 WIB

ditunggu update selanjutnya
baju muslim anak
20 September 2018 - 11:54:04 WIB

informasi yang bagus sekali semoga info ini bermanfaat
grosir baju anak
20 September 2018 - 14:42:21 WIB

sering - sering update artikelnya
sworn translator jakarta
21 September 2018 - 09:18:33 WIB

hebat postingannya, inspiratif banget…
baju muslim anak terbaru
21 September 2018 - 11:18:16 WIB

hebat postingannya, inspiratif banget…
penerjemah inggris indonesia online
22 September 2018 - 09:26:09 WIB

website ini mempunyai banyak sekali informasi menarik, terus update gan
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | ... | 43 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)